Kamis, 25 Desember 2008

> Wolfgang "The Legend of Rock Climbing" Gullich,


Sang “Master” Sport Climbing. Di tahun 1990 bersama tim Jerman, Gullich menggapai Raiders in The Storm, Tower of Paine, Patagonia, sebuah jalur sulit yang tak ada harapan dapat ditembus yang berdekatan dengan jalur yang dibuat tim Afrika Selatan. Dan juga menggapai Trango Tower, Tower of Paine Patagonia. Gullich merupakan pemanjat ajaib dan terkenal di Jerman (bahkan Eropa), ketika pada 11 September 1991 menyelesaikan jalur yang sangat berat berjarak 12m (30ft) dengan dinding overhang 45 derajat, di batuan limestone Frankenjura, Jerman. Selama dua tahun, ia terus mencoba dan mencoba tebing ini dimana cacat permukaan tebingnya hanya bisa dipegang dengan satu jari saja (one finger hold). Lalu ia menyelesaikan rute tersebut selama 11 hari, selama periode 10 minggu. Kala ia merasa siap, iapun dapat menyelesaikannya hanya dalam 70 menit. Dengan begitu banyak pembukaan jalurnya, termasuk Action Directe, Wall Street dan Punk di Gym, Gullich menjadi terdepan dalam sport climbing . Termasuk sebuah pemanjatan free soloing membuka pertama kali jalur di Separate Reality, Yosemite Valley yang sepaktakuler. Ia sempat menjadi pemeran pengganti bagi Sylvester Stallone dalam film Cliffhanger yang berlokasi di Dolomites, Itali. Namun ia tak pernah menyaksikan film tersebut, pagi hari, setelah interview di sebuah radio ia terlihat terbaring di bawah ban mobilnya yang setelah mengalami kecelakaan yang berat. - Dunia panjat terkejut dan kehilangan satu pemanjat hebat.

> Sepatu Brasher Seri Tambora


Sepatu trekking ini diproduksi Brasher Company, yang berada di Inggris. Dibuat dari bahan Gore-Tex (GTX) . Yang bikin kita bangga ia menamakan salah satu produk sepatunya dengan nama salah satu gunung di Indonesia yaitu;Tambora

> Sol Sepatu Vibram


Vibram merupakan nama sebuah pabrik, yang membuat sol sepatu dari jenis bahan yang sangat kuat, khususnya untuk sepatu-sepatu yang digunakan untuk kegiatan mountaineering. Ini dibuktikan dengan dipergunakannya sol Vibram pada produsen sepatu terkenal, sepertti The North Face, La Sportiva, Merrel, Asolo, Scarpa dan Lainnya.
Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya Vibram merupakan singkatan dari Vitalie Brammy, orang yang menciptakan jenis sol ini.

> Terbentuknya G. Gede dan G. Pangrango

Dilihat dari lapisan-lapisan batuan pembentuk G. Gede dan G. Pangrango, diketahui bahwa awalnya pegunungan ini terbentuk akibat tubrukan antara lempeng Continental (Eurasian)dengan lempeng Oceanic (benua besar di bawah Australia). Pada saat berbenturan, lempeng Oceanic yang lebih berat tenggelam atau tertindih lempeng Kontinental, sedang lempeng Kontinental terangkat ke atas dan membentuk pegunungan.

Lempeng Oceanic tenggelam sampai ke lapisan kerak bumi dan meleleh karena panas, dengan melelehnya batuan menyebabkan kepadatan disekitarnya menjadi kurang, sehingga permukaan bumi amblas dan membentuk lubang-lubang kepundan.

Gunung tertua di kawasan ini, nampaknya adalah G. Gegerbentang dan disusul adiknya G. Mandalawangi. Sekarang G. Geger Bentang yang sudah tua terlihat seperti lerengnya G. Pangrango saja, padahal dahulunya merupakan gunung api tersendiri yang dibuktikan dengan meninggalkan jejak dua kawah yang berada di antara Puncak Pass dan G. Pangrango.

Sedang G. mandalawagi merupakan gunung api yang sangat besar dan meletus dengan dasyatnya, lavanya mengalir ke segala arah, batuannya menyebar sampai ke kaki G. Salak dan Kota Bogor. Saat ini G. Mandalawangi sudah tak ada lagi, hanya jejaknya saja berupa bekas kawah besar Mandalawangi dan anaknya gunungnya yang kita kenal sekarang adalah G. Pangrango

Walaupun dalam 47 tahun terakhir dikelompokkan dalam “sedang tidur”, namun Gunung Gede merupakan gunung yang masih aktif, ditandai dengan memancarnya uap air dan gas.

Menurut catatan yang ada, gunung gede pertama kali meletus pada tahun 1747. Dan letusan yang paling dasyat dan lama waktunya terjadi pada bulan Nopembwer 1840 s/d maret 1841. pada tanggal 12 Nopember 1840, letusan yang menggelegar diikuti gempa dan gemuruh awan panas menuju lereng barat gunung. Untungnya awan panas tersebut terhenti sebelum mencapai daerah yang sekarang adalah Kebun Raya Cibodas. Api dan debu bercahaya kilat nampak menjulang tinggi seperti “pohon raksasa” yang tingginya lebih dari 200 m dari puncak gunung. Batu-batu besar terlempar ke udara, sebuah batu yang sangat besar mendarat di Cibeureum dan menimbulkan lubang sedalam 4 meter.

Letusan terakhir terjadi pada tahun 1957, dan perlu diwaspadai semakin lama gunung berapi “tidur”, maka letusan yang terjadi berikutnya akan semakin dasyat.
Sejak abad ke-18 keunikan Gunung Gede dan Pangrango telah menarik perhatian dunia. Dinding kawah di puncak Gede yang terlihat dari Bogor pada masa itu mengundang orang untuk menengok lebih dekat dan berdiri dia atasnya. Para peneliti yang pernah mengunjunginya merasa takjub akan keanekaragaman hayati yang luar biasa dan formasi alam yang mempesona.


Sejarah terbentuknya Taman Nasinal G. Gede Pangrango

Pada tahun 1889 hutan antara Kebun Raya Cibodas dan Air Panas ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas, selanjutnya tahun 1978 diambil langkah besar dengan menjadikan kawasan 14.000. ha yang terdiri dari dua puncak utama dan lereng yang luas ditetapkan sebagai Cagar Alam Gede Pangrango. Akhirnya pada tahun 1980 semua daerah disatukan dan lahirlah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan luas 15.196 ha. Pada perkembangannya tahun 2003 terjadi perluasan kawasan dari hutan-hutan disekitarnya sehingga luas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menjadi 21.975 ha.

Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berada diantara tiga kota yang sedang berkembang. Keberadaan kawasan ini bukan hanya berfungsi ekologis, tapi juga menjadi media pendidikan dan wisata alam.

Tiga buah sungai yang menyatu di bagian bawah kompleks air terjun Cibeureum membentuk satu sungai yang diberi nama Cikundul. Kawasan TNGP merupakan daerah tangkapan air yang vital yang memasok sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta. Air hujan yang turun meresap ke dalam tanah dengan bantuan tumbuh-tumbuhan. Pelepasan air secara lambat namun kontinyu oleh hutan, akan mencegah banjir, dan tersedianya air di musim kemarau.

> The History of Chris Bonnington Climbing


1977 First Ascent on the Ogre

Salah satu cerita survival di gunung terbaik yang pernah terjadi, ketika Chris Bonnington dan Doug Scott menjadi yang pertama mencapai The Ogre (7.300 m) di tahun 1977. Berada di Karakoram Himalaya, puncak ini beberapa kali dicoba tanpa kesuksesan. Merupakan sebuah gambaran yang spektakular dari pemanjatan tebing-tebing tingggi (high-altitude alpine climbing), Scott mlewati sebuah crux menuju puncak Ogre, dikuti Bonnington. Tapi ketika melakukan rappelling dalam perjalanan turun, Scott terpeleset pada sebuah tonjolan datar (patch) yang licin dan terayun ke dinding tebing, mematahkan kedua kakinya. Apa yang terdai selanjutnya merupakan sebuah sejarah turun selama enam hari ditolong oleh pemanjat Moe Anthoine dan Clive Rowland, diman Doug Scott berusah mempertahankan hidupnya dengan merangkak dengan tangan dan kedua dengkulnya.

Selama perjalanan turun Scott rappelling hingga ujung tal, dan dengan keberuntungan ia berusaha memertahankan jiwanya dari kematian dengan susahpayah menggapai tali tetap (fixed rope). Bonnington mengikuti, tanpa menyadari bahwa salah satu ujung tali tak sepanjang ujung satunya, terjatuh dari tali dan mematahkan salah satu pinggangnya. Untuk menambah persediaan makanan menipis, dan ketika mereka terjebak di kemah induk (Base Camp), Untungnya mereka tertolong anggota ekspedisi yang kembali untuk mencari mereka.

1981 First ascent on Kongur

Tahun 1980 cina membuka perbatasannya untuk pendakian dan wisata, hinnga chris, Dr, Michael Ward da Alan Rouse yang dikirim atas perintah Mount Everest Foundation untuk berngosiasi dengan China Mountaineering Association untuk sebuah izin mereka tertarik pada Mount Kongur (7.719 m), merupakan gunung tertinggi di dunia yang belum pernah didaki, berada di Propinsi Xianjiang Barat, Setelah memperoleh izin untuk melakukan pemeriksaan medis, mereka bersiap untuk mendaki gunung tersebut ditahun yang sama, namun berakhir karenaterintimidasi oleh kesulitan-kesulitan di gunung itu. Pada saat konfrensi press

Chris dan Ward bisa mendapatkan sponsor dari sebuah perusaan dagang Hongkong, Jardine Matheson. Mereka kembali di tahun 1981 untuk mencoba mendaki dengan tehnik alpine style dengan sbuah tim yang beranggotakan Bonnington, Peter Boardman, Joe Tasker dan Alan Rouse.

Setelah mendur dari permulaan mencoba naik melalui Souteast Ridge, mereka mendaki West Ridge dan menggali empat lubang diatas sebuah dataran salju. Mereka terjebak bdai disana selama empat hari Namun ketka cuaca cerah pada hari kelima, mereka sampai di puncak, Chris kemudian menggambarkan temapat ini mirip dengan Noth Face-nya Matterhorn, Mereka turun dengan selamat, but Boardman tertimpa batu besar saat turun, ia hanya diamankan pada ujung tali oleh sarung tangannya (mitten) yan terjepit karabiner yang rusak dari descendernya. Tak seperti oninngton,

1982 comploete Northeast Ridge on Everest

Tahun 1982, Bonnington bersama Boardman, Joe Tasker dan Dick Renshaw, mencoba jalur Norteast Ridge Everest, dengan Alpine Style tanpa bantuan tabung oksigen, Renshaw menderita cedera menengah dan terpaksa mundur dari pendakian, ditemani dokter ekspedisi Charles Clarke sepanjang jalan menuju Chengdu, Cina. Bonnington mulai menyadari bahwa ia tak cukup kuat memanjat dengan Boardman atau Tasker di ketinggian ini, hingga ia memutuskan untuk turun. Boardman dan Tasker yang masih merasa kuat, bersiap untuk usaha terakhir menuju puncak. Mereka terakhir terlihat pada hari itu pada sebuah punggungan antara Pinnacle I dan II sebelum menghilang

Pada tahun 1992 sebuah ekspedisi gabunga Kazakhstab dan Jepang menmukan tubuh Boardman di puncak Pinnacle II, namun tak ada jejak Joe yang ditemukan. Boardman dalam keadaan duduk, dan tak melepaskan pakaiannya ini terlihat bahwa mereka berusaha terus ke tempat tinggi, terlalu cepat dan meninggal akibat kelelahan setelah sebuah rangkaian di Zona Kematian. Bonnington punya sebuah spekulasi bahwa satu diantara mereka spertinya terus berusaha meraih puncak, semenjak rute ini olehnya di bawah North Col, dan berharap melihat sesuatu.

> REINDHOLD MESSNER

The First Man Summitted 14 Highes Peak In The World

Mencapai puncak gunung-gunung tinggi tanpa bantuan tabung oksigen adalah prestasi yang lain dan tersendiri, hanya ada segelintir orang yang sanggup melakukan petualangan yang beresiko sangat tinggi ini. Tipisnya kadar oksigen menyebabkan para pendaki terpaksa mengandalkan tabung tersebut untuk mencapai puncak. Mereka khawatir dengan gangguan kesehatan yang muncul bila nekat tak menggunakannya.

Salah satu kunci kesuksesan tim Inggris, yang menghantarkan Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay mencapai titik 8.848 meter (Everest) adalah bantuan tabung oksigen. Sejak awal ekspedisi tim ini tak melarang penggunaannya. Sebab pada ekspedisi yang dilaksanakan pada 13 April – 3 Juni itu memang bertujuan mengantarkan orang yang pertama memuncaki Everest. Karena sebelumnya beberapa ekspedisi mengalami kegagalan.

Mendaki gunung-gunung tinggi di dunia-terutama diatas 8000-an meter tanpa bantuan tabung oksigen sempat menjadi kontroversi. Usaha mencapai puncak Everest tanpa tabung oksigen diawali oleh George L, Mallory (Inggris). Ia menolak menggunakan tabung tersebut saat melakukan ekspedisi kedua tim Inggris yang dilakukan pada April-Juni 1922. Walaupun ekspedisi ini gagal mencapai puncak, Mallory sanggup mencapai ketinggian 27.000 feet tanpa oksigen, dimana rekannya yang menggunakan tabung hanya sampai 300 feet di atas Mallory.

Kadar oksigen yang tipis dapat mengganggu kinerja otak, bahkan menimbulkan halusinasi. Walau ia menyadari, dengan menggunakan tabung ia akan mendapat banyak keuntungan, Namun Mallory merasa aneh jika memakainya. Pada ekspedisi tim Inggris ke Everest kali ketiga, ia hilang bersam rekannya Andrew Irvine. Tubuh beku keduanya ditemukan dekat dengan puncak pada tanggal 8 Juni 1924.

Era tahun 70an, wacana pendakian tanpa bantuan tabung oksigen kembali mengemuka. Beberapa pendaki menyatakan, sebuah pendakian akan terbilang sukses tanpa bantuan tabung tersebut, Gaya pendakian tanpa tabung oksigen dihantarkan oleh dua pendaki pemula saat itu, Reinhold Messner dan Peter Habeler, keduanya begitu bersemangat membuktikan, jiwa olahraga dunia pendakian akan lebih terasa bila dijalani tanpa tabung oksigen yang digendong di punggung.

Di tahun 1974, Messner dan Habeler berhasil memanjat dinding utara (North Face) Eiger (Perancis) hanya dalam waktu 10 jam. Keduanya berpendapat, kecepatan pendakian berbanding lurus dengan keselamatan diri. Pendakian kilat itu dapat mengurangi ancaman longsoran salju dan kemungkinan cuaca buruk, ini juga didukung dengan perlengkapan pendakian yang dihitung dengan amat cermat, sebagai usaha mengurangi beban.

Kesuksesan di Eiger, makuin menambah semangat mereka. Keduanya terus memacu program latigan yang bertujuan akhir menghantarkan mereka tanpa tabung oksigen ke puncak di atas 8000 meter pada tahun 1975. Usaha mereka tak sia-sia, Dengan hanya membawa 12 porter untuk mencapai kemah induk (basecamp), di tahun yang sama pasangan pendaki legendaris ini mencapai puncak Gasherburm I / Hidden Peak (8,068 m) di Pakistan. Dan hebatnya merekapun sukses membuka jalur baru; rute barat laut (northwest route) yang merupakan jalur naik dan turun mereka.

Usai pendakian itu, duet handal ini seperti tak sabar menyiapkan petualangan berikutnya, yaitu dengan taget memuncaki Everest dan tentunya tanpa bantuan tabung oksigen.

Sejarah itu terjadi di tahun 1978, mereka mendaki tanpa membawa tanda, menuju puncak melalui South Col. Tantangan alam yang amat berat, mampu dilewati. Kebisuan dan hanya kadang saling pandang menjadi bahasa mereka, karena keduanya mempunyai ikatan yang sangat kuat sebagai tim. Habeler sempat khawatir akan kadar oksigen yang tipis di ketinggian yang dapat merusak otak sampai kehilangan memorinya. Mereka akhirnya menginjakkan kakinya di puncak, dimana secara fisik Habeler mengaku letih, namun hasrat mencapai puncak yang begitu tinggi mampu mengalahkan segalanya. Karena takut terkena kerusakan otak, Habeler turun ke South Col meluncur menggunakan kapak esnya, dalam waktu hanya 1 jam,……… ajaib ………..

Di tahun yang sama, Messner berhasil mencapai puncak Nanga Parbat (8.125 m) tanpa bantuan tabung oksigen. Bagi para pendaki prestasi itu seolah tenggelam, mereka justru penasaran dengan “pendakian seorang diri” Messner dalam usaha mencapai puncak gunung nomer sembilan yang berada di Pakistan itu hanya dalam waktu 12 hari.

Mungkin merasa diabaikan, dua tahun kemudian Messner kembali menciptakan sensasi. Pada tanggal 18-21 Agustus 1980, ia sukses membuat rekor lagi, kini di Everest, mendaki seorang diri tanpa tabung oksigen, dimana dihari ketiga, dengan tubuh yang letih ia mampu berdiri di titik 8.848 m tersebut.. Saat tiba di kemah induk, Messner berucap terbata-bata, “Saya tak dapat mengulanginya lagi, saya telah mencapai batas kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia”

Namun, rekornya tak berhenti disitu. Ketika berumur 42 tahun, pada 17 Oktober 1986, bersama Hans Kamerlander, ia menerima suguhan kopi panas di kemah induk Lhotse (8.516 m). Inilah sambutan teman-temannya, setelah mereka menaklukkan puncak nomer empat di dunia tersebut. Ini sekaligus menobatkan Messner sebagai orang pertama yang berhasil menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia.

Dan ia terus membuat rekor-rekor baru dalam dunia petualangan. Ia sempat hadir bersama sang istri, ketika perayaan 50 tahun Everest pertama kali diraih Hillary dan Norgay. Reinhold Messner memang sebuah fenomena dalam dunia petualangan dunia.