Senin, 04 Mei 2009

Erik "the blind climber" Weihenmayer

Meskipun orang-orang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah
mampu melakukanhal-hal seperti yang dilakukan oleh orang -
orang lain, Erik Weihenmayer tidak memercayai vonis itu dan
menolak hidup dengan keterbatasan-keterbatasan.Setelah ber-
tarung dengan kebutaannya selama bertahun-tahun, Erik bela-
jar untuk menerima hal itu dan membuatnya sebagai bagian
dari kehidupannya. Ia berjuang untuk mengubah masalah menjadi berkat.
.

Pertama-tama ia bergabung dengan regu gulat di SMU, pernah menjadi
kapten danjuara gulat kedua di negara bagiannya. lalu diselingi dengan
memanjat tebing,meyelam dan lainnya. Berikutnya Weihenmayer mengambil
tantangan dengan mendaki gunung, sebuah hobi yang bahkan cukup sulit
bagi orang-orang yang penglihatannya sempurna.


Pada tanggal 25 Mei 2001, Erik Weihenmayer menjadi satu-satunya orang
tunanetra dalam sejarah yang dapat mencapai puncak gunung tertinggi
di dunia, Puncak Everest. Pada tanggal 20 Agustus 2008, ketika ia ber-
diri di puncak gunung Carstenz Pyramid di Papua, puncak gunung terti-
nggi di belahan Austral-Asia, Weihenmayer menyelesaikan perjuangannya
mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua. Erik hanya di
ikuti oleh kurang dari 100 orang pendaki gumung yang berhasil mencapai
prestasi hebat ini. Tambahan pula, ia telah mendaki El Capitan, gunung
batu monolit granit yang curam setinggi 3300 kaki di Yosemite,dan juga
Lhosar,tebing air terjun dengan bekuan es setinggi 3000 kaki di daerah
Himalaya, dan tebing batu curam yang paling sulit dan jarang didaki se-
tinggi 17.000 kaki di Kenya.

Di dalam bulan September 2003, Erik bergabung dengan 320 bintang atlit
dari 17 negara untuk berlomba pada Primal Quest, petualangan dalam ber-
bagai jenis olahraga yang paling keras; 457 mil melalui Sierra Nevada,
sembilan hari, 60.000 kaki di antaranya melewati daerah pegunungan, dan
tidak ada waktu jeda.Dengan tidur hanya rata-rata dua jam perhari, Erik
dan timnya menerobos masuk garis finis di Danau Tahoe, yang menjadi sa-
lah satu dari 42 tim yang mencapai garis finish dari 80 tim yang mengi-
kuti start.

Setelah mencapai puncak Everest, sekolah "Braille Without Borders" bagi
para tunanetra di Tibet mengundangnya untuk mengajar para murid untuk
mendaki gunungdan tebing. Pengalamannya dalam banyak pendakian mendorong
semangat para murid tunanetra itu untuk mencapai keunggulan di bidang
yang jarang dimanfaatkan para tunanetra. Erik dan enam orang anggota
tim Everestnya pergi ke Tibet di bulan Mei 2004 untuk melatih para murid
di sekolah itu, kemudian di bulan Oktober di tahun yang sama ia mengajak
dan memimpin mereka untuk mendaki Rombuk Glacier di bagian utara Puncak
Everest. Meskipun mereka tadinya termasuk orang Paria, para remaja tuna
netra itu akhirnya berdiri bersama di ketinggian 21.500 kaki, lebih ti-
nggi dari tim tunanetra manapun dalam sejarah. Steven Haft,produser film
Dead Poet's Society dan film berkelas lainnya, mengabadikan pendakian
para tunanetra itu dalam film dokumenter dan mengundang tepuk tangan ke-
hormatan (standing ovation) dalam berbagai festival film di Toronto, LA
dan London. Film itu telah diputar di bioskop pada tahun 2007 yang lalu.

Sebagai bekas guru SMU dan pelatih gulat, Erik merupakan salah satu atlet
paling menakjubkan dan terkenal di dunia. Meskipun ia kehilangan pengli-
hatannya di usia 13, Erik telah menjadi pendaki gunung,pemain paraglider,
dan pemain ski, yang tidak pernah membiarkan kebutaannya menghalangi
semangatnya untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dan memuaskan.
Prestasi pendakian gunung Erik telah menganugerahinya dengan penghargaan
ESPY, sebuah penghargaan dari majalah Time bagi seorang atlit terbaik di
tahun 2001.Selain itu ia mendapatkan kehormatan ketika namanya diabadikan
di "National Wrestling Hall of Fame", dan mendapatkan penghargaan ARETE
untuk prestasi atlit luar biasa di tahun itu, ia juga meraih penghargaan
"Helen KellerLifetime Achievement",dan penghargaan Casey Martin dari Nike,
dan penghargaan "Freedom Foundation's Free Spirit". Ia juga diberi kehor-
matan untuk membawa obor Olimpiade musim panas dan musim dingin.

Selain menjadi atlit kelas dunia, Erik juga menjadi penulis buku "Touch the
Top of the World", yang diedarkan di sepuluh negara dalam enam bahasa.Menu-
rut Publisher's Weekly, buku kenangan Erik itu sangat menyentuh hati dan
penuh petualangan yang luar biasa dan Erik mengisahkan kisah luar biasa itu
dengan penuh humor, kejujuran dan rincian yang hidup, sehingga buku itu
sangat memberi inspirasi dan dorongan semangat dan kekuatan. Buku itu juga
difilmkan dan ditayangkan di bulan Juni 2006.

Buku Erik yang kedua, "The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles
Into Everyday Greatness" yang ditulis bersama penulis laris dan guru di bi-
dang bisnis, Dr. Paul Stoltz, telah diedarkan di bulan Januari 2007 dan di-
terjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia. Melalui keahlian
Paul di bidang ilmu Pengetahuan dan pengalaman Erik, buku itu membagikan tu-
juh "puncak" bagi peningkatan daya tahan menghadapi kesulitan dan membalik-
kan kesulitan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis untuk bertumbuh dan
mencapai inovasi. Steven Covey, penulis buku terkenal, menulis kata pendahu-
luandi buku tersebut. Kisah Erik juga ditulis dalam majalah Time,
Forbes, dan Reader's Digest.

Film Erik yang mendapatkan penghargaan, "Farther Than the Eyes Can See", di-
beri peringkat "Duapuluh Paling Top"/Top Twenty dalam jajaran film - film
petualangan sepanjang masa oleh Men's Journal. Dengan meraih hadiah pertama
diantara 19 film dan dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Emmy, film
itu dengan indah menangkap perasaan, humor, dan drama dalam kisah pendakian
Erik yang bersejarah, selain meraih tiga gelar serba pertama oleh timnya;
tim pertama yang terdiri dari ayah anak yang sampai di puncak tertinggi,
orang paling tua pertama yang sampai di puncak tertinggi, dan tim pertama de-
ngan anggota paling banyak yang sampai di puncak tertinggi. Melalui film ini
telah terkumpul dan dibagikan dana sebanyak $ 600.000,- bagi organisasi-orga-
nisasi sosial.

Prestasi Erik yang sangat luar biasa telah membuatnya diundang dalam acara -
acara TV NBC; Today's Show dan Nightly News, Oprah, Good Morning America,
Nightline, dan Tonight Show, untuk menyebutkan beberapa di antaranya.
Wajahnya juga telah menghiasi halaman sampul depan di majalah Time, Outside,
dan Climbing Magazine.

Pada tahun 1999 Erik bergabung dengan Mark Wellman, orang lumpuh pertama yang
mendaki gunung El Capitan setinggi 3000 kaki, dan bersama Hugh Herr, seorang
cacat yang kedua kakinya diamputasi dan merupakan seorang ilmuwan di Harvard
Prosthetics Laboratory,* mendaki tebing setinggi 800 kaki di Moab, Utah.
Sebagai akibat keberhasilan mereka bersama, ketiganya membentuk organisasi
nirlaba "No Barrier" yang bertujuan mempromosikan gagasan-gagasan dan pende-
katan inovatif, serta teknologi yang membantu orang-orang cacat untuk menca-
pai kehidupan yang luar biasa dengan menyingkirkan segala penghalang dan
batas dari kehidupan mereka. Erik juga melayani di National Braille Literacy
Champion atas nama *American Foundation for the Blind*.

Karier Erik sebagai pembicara motivasi telah membawanya keliling dunia, mulai
dari Hongkong ke Swiss, dari Thailand sampai pertemuan puncak APEC di Chille,
selain di seluruh Amerika Serikat. Ia berbicara kepada banyak orang tentang
bagaimana meningkatkan daya juang melawan kesulitan (Adversity Quotient),
pentingnya tim yang saling terjalin erat, dan bagaimana menghadapi kesulitan
sehari-hari untuk mengejar impian anda. Semua pencapaian dan prestasi Erik
membuktikan kepada kita semua bahwa orang tidak perlu punya penglihatan yang
sempurna untuk mendapatkan visi yang luar biasa.

Minggu, 12 April 2009

Istilah-istilah dan peralatan dalam Rock Climbing

Aid Climbing ; Suatu tehnik memanjat tebing dengan menggunakan alat-alat untuk menambah ketinggian. Seperti ascender, tali statis, stirrup dan lainnya.
Cheater Stick ; Dapat secara kasar sebagi si tongkat curang. adalah sejenis pengait yang dapat dihubungkan dengan dengan runner/carabinner, dengan begini pemanjat dapat melewatkan beberapa pengaman tetap (hanger)

Chiken Bolt ; Baut yang ditempatkan oleh pemanjat awal, karena tak cukup berani memanjat suatu bagian tebing tertentu tanpa tambahan baut tebing.
Cow's Tail ; Sling web
bing atau prusik. ujung satunya dikaitkan pada harness, ujung lainnnya dapat dikaitkan pada runner/hanger untuk beristirahat
Daisy Chin ; Webbing sepanjang lebih kurang 1 m, yang dijahit dan mempunyai beberapa loop sepanjang selebar 5 cm. Berguna untuk membebaskan runner dengan mengaitkannnya pada runner. Kelebihannnya jarak dari runner, dapat diatur sesuai kebutuhan.

Expanding ; Bentuk permukaan batuan tebing, biasnya berupa serpihanyang meregang atau bergerak ketika pengaman yang terpasang terbebani
Hanging Belay : Mengamankan pemanjat secara menggantung, disebabkan karena tak adanya teras pada tebing

Hauling : Menaikkan atau menurunkan peralatan dengan sistem katrol menggunakan pulley. Biasanya dilakukan dalm multipitch climbing, setelah leader menyelesaikan satu tahapan pemanjatan
Jugging
: Umum disebut ascending /prusikking. Tehnik meniti tali dengan ascender.
Jump Testing : Metode menguji pengaman/runner yang telah terpasang. Caranya dengan menempatkan etrir/stirrup
pada pengaman, kemudian injak loop terakhir, sentakkan dengan lompatan-lompatan kecil
Manky/Dicey : Batu a
tau piton yang goyah dam membahayakan.
Pendulum : Gerakan mengayun secara horisontal. Umumnya untuk perpindahan dari sisi tebing ke sisi sampingnya, dikarenakan tak
ada lagi cacat batuan yang bisa dijadikan tumpuan pemanjatan.
Portaledge : Sejenis velbed, yang digantung pada pengaman/hanger. Berguna untuk beristirahat

Rivet : Sejenis sekrup dari baja, ditempatkan (diketuk dengan palu tebing) ke dalam lubang tebing yang datar, untuk menjepi rivet hanger. Lebih efesien dari baut tebing, namun tak cukup aman dan kuat
Rivet Hanger : Kabel
baja berbentuk dua loop yang menyilang, dikaitkan pada rivet (baut tebing)

Rurp : Singkatan dari Realized Ultimate Reality Piton. Sebentuk baja tipis sebesar perangko. Dipasang pada celah sempit dan dangkal.

Siege Tactic : Tehnik pemanjatan multipitch (banyak tahapan) menggunakan tali tetap (fixed rope). Pada sistem ini perintis jalur dapat turun dan bermalam. Lalu melakukan jugging/prusikking sampai titik terakhir yang dicapai, kemudian melakukan lead climber lagi.
Single Push
Tactic ; Kebalikan dari Siege Tactic, dimana pemanjat bermalam pada titik terkahir, lalu meneruskannnya
Stacking : Mengganjal /menumpuk beberapa piton, berlawanan arah. Ini dilakukan karena celah terlalu lebar untuk satu piton dan tak ada lagi titik yang dapat dijadikan tumpuan pengaman

Tag Line : Tali yang digunakan untuk mengendalikan haul bag (tas yang digunakan untuk membawa peralatan) saat melakukan tehnik hauling
Tension Traverse : Memanjat bebas ke arah samping dengan menegangkan (tension) tali panjat
Tie-Off : Webbing 0,5 inch yang dibuat lingkaran pendek untuk dikaitkan pada piton yang masuk seluruhnya ke dalam celah tebing. Sedang piton yang dilingkari disebut tied-off

Tenching : Membor atau memahat pada sudut tebing yang polos (blank) untuk menempatkan alluminium head atau copperhead
Zippering : Pemanjat terjatuh dan sebarisan pengaman/ runner tercabut atau terlepas dari posisinya

Selasa, 07 April 2009

Dasar - Dasar Panjat Tebing

Ada banyak hal yang penting ketika seseorang menjadikan panjat tebing sebuah hobby bahkan prestasi. Beberapa hal yang harus diketahui antara lain; Bentuk tebing, yaitu bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan, mulai dasar sampai puncak. Bagian-bagian tebing antara lain:
Blank; bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa disebut vertikal.
Overhang; bentuk tebing yang mempunyai sudut kemiringan antara 10-80 derajat.
Roof; bentuk tebing yang mempunyai sudut 0-180 derajat terletak menggantung.
Teras; bentuk tebing yang mempunyai sudut 0-180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing.
Top; bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan.

Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam memanjat. Bagian ini dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu:
- face ; permukaan tebing yang mempunyai tonjolan (ledges)
- slap/friction ; permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan dan celah. Rata, dan mulus dan tak ada cacat batuan.
- fissure ; permukaan tebing yang berbentuk celah (crack) dari yang kecil sampai yang besar.

5 Komponen Dasar Panjat Tebing
Panjat tebing juga memerlukan tingkat fisik dan mental yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat, bahwa dari satu sisi panjat tebing terlihatsebagai salah satu olahraga yang bersifat mental, karena menyelesaikan satu rute/problem anda harus membuat strategi penyelesain masalah dengan kombinasi tehnik yang baik, disisi lain karena posisi pemanjat yang menggantung dn arah gerak/posisi tubuh yang berlawanan dengan gaya gravitasi mereka perlu otot yang tidak lunak, yang ini bersifat fisik.
Komponen dasar dikategorikan dalam:
1. Komponen Fisik
Kekuatan
Kekuatan ini cakupannnya menyeluruh termasuk kekuatan tangan dan kaki (limp stregth) dan kekuatan tubuh (core strength), yaitu perut, dada, punggung dan pinggang.
Daya Tahan
Artinya kemampuan anda untuk memanjat rute yang panjang tanpa terlalu banyak berhenti/istirahat. tentunya ini sangat mendominasi para pemanjat multi pitch.
Kelenturan
Meskipun wanita pada umumnya tidak sekuat pria, namun ia amat menonjol dalam hal ini. Kelenturan akan menentukan apakah pemanjat dapat menyelesaikan satu rute tertentu atau tidak, jangan disepelekan. Selalu lakukan pemanasan kemudian melenturkan tubuh, sebelum memanjat. Kombinasi kelenturan dan kekuatan akan menjadikan alur gerak (fluidity) si pemanjat akan indah, mudah (padahal sulit) dan mengesankan.
2. Komponen Non Fisik
Mental dan Sikap
Keduanya harus positif. Keadaan mental akan menjelma menjadi sikap yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemanjatan.
Tehnik
Jangkauannnya umum, bisa termasuk gabungan dari komponen fisik di atas. Tehnik-tehnik didapat dari proses belajar dan pengalaman yang tidak sebentar.

Selasa, 31 Maret 2009

Descendeur

Dalam bahasa Inggris; descender, pada dasarnya merupakan peralatan untuk menuruni suatu ketinggian (abseiling/rapelling), khususnya kegiatan yang berkaitan dengan mountaineering, atau evakuasi bahkan kerja di ketinggian. Descender mempunyai dua jenis dengan banyak variasi atau modelnya, antara lain;
Non Mechanical Descender
Inilah jenis descender yang umum digunakan. Selain karena mudah penggunaannya, juga lebih murah dibanding mechanic descender. Sistem kerjanya murni menggunakan tangan, artinya untuk mengontrol laju tali tanganlah yang mengaturnya. descender jenis ini dapat dipakai sebagai alat pengaman (belaying system/belay device) dalam pemanjatan dinding buatan atau tebing batu. Antara lain, figure eight, ATC,rappel device, plate dan lainnya.


Namun ada pula yang hanya bisa digunakan sebagai descender. Umumnya dipakai descending pada tebing-tebing vertikal atau long route, atu caving dan evakuasi. Antara lain; rappell rack, stop descender dan lainnnya.

Mechanical Descender
Descender jenis ini bekerja secara autolock system, dengan begitu kita dapat mengatur laju tali dengan dengan menekan dan mengendurkan tekanan pada tuas rem (brake handle).


Seiring dengan kemajuan zaman, perkembangan alat inipun semakin maju. Berbagai produsen peralatan berpacu dengan memunculkan model terbaru.

Bivy Tent


Ini adalah jenis tenda untuk perorangan. Umumnya dipakai karena ringan, dan mudah dipasang serta dibongkar. Selain karena hal itu, juga menghemat waktu pendakian

Jumat, 20 Maret 2009

Bertualang Yang Baik

Dalam melakukan kegiatan di alam bebas terbuka sebaiknya kita dapat mengatur dengan baik segala yang berhubungan dengan kegiatan itu sendiri. Hal ini kita lakukan agar perjalanan kita dapat berjalan baik, bahkan mungkin tanpa suatu halangan apapun. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan antara lain;
PERENCANAAN PERJALANAN
Adalah segala hal yang kita siapkan sebelum, selama dan sesudah suatu kegiatan alam bebas terbuka. Dengan begini kegiatan itu nantinya dapat dinikmati dengan baik orang-orang yang ikut dalam kegiatan tersebut. Hal-hal yang termasuk diantaranya;
- Pemilihan lokasi
Walaupun kita mungkin belum pernah tempat yang akan dituju, sebaiknya kita mengumpulkan informasi tentang tempat tersebut, baik melalui teman ataupun study literatur yang diperoleh dari media informasi yang ada (majalah, internet dsb)
- Peta
Akan lebih baik lagi jika kita dapat memperoleh peta, minimal topografi lokasi tersebut. setidak-tidaknya kita mempunyai gambaran tentang kondisi geografisnya.
- Perizinan
Ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada petugas setempat, kalau kita berada dalam wilayah kerjanya. Apalagi jika kita ia lebih mengetahui kapan kita keluar dari wilayahnya.
- Fisik
Dengan kondisi fisik dan mental yang lebih siap, akan memermudah kita melakukan suatu kegiatan di alam bebas terbuka. Apalagi jika kita sering berolahraga yang mendukung kegiatan alam bebas ini seperti; jogging, bersepeda dan lainnya.
- Pemahaman Lokasi
Dengan memperoleh data tentang kondisi alam lokasi yang akan kita tuju, setidak-tidaknya kita dapat menyesuaikan peralatan apa saja yang akan kita bawa.
- Mengecek Peralatan
Ini penting untuk dilakukan sebelum kita akan melakukan suatu kegiatan. jangan sampai peralatan yang kita bawa malah tak berguna sama sekali karena rusak, atau hanya memberatkan saja.

PERALATAN
Peralatan perorangan atau kelompok baiknya disesuaikan dengan medan yang akan kita gunakan, ini akan memudahkan kita dalam memakainya. Peralatan sendiri terbagi atas;
Peralatan Dasar
- Peralatan Pergerakan
Adalah jenis-jenis peralatan yang diapakai saat bergerak yang dipakai oleh tubuh kita. Seperti; sepatu, ransel, baju, celana lapangan, jaket, raincoat dan sebagainya
- Peralatan Tidur
Adalah jenis-jenis peralatan yang dipakai saat kita beristirahat/tidur pada suatu tempat, antara lain; tenda, sleeping bag, matras dan lainnnya.
- Peralatan Masak
Peralatan Masak merupakan peralatan yang vital, lebih lagi jika kegiatan tersebut memerlukan waktu yang lebih lama. Antara lain; kompor lapangan, piring, gelas, sendok dan lainnnya.
Peralatan Khusus
Adalah berbagai peralatan yang ditujukan untuk kegiatan alam bebas yang lebih khusus, misal pemanjatan tebing, maka peralatan yang kita bawa akan ditambah dengan peralatan panjat tebing. Atau olahraga petualangan lainnya, seperti penelusuran gua, arung jeram, research dan sebagainya.
Peralatan Tambahan
Peralatan tambahan merupakan jenis alat-alat yang dapat mendukung peralatan dasar baik untuk perorangan ataupun kelompok. Antara lain; Hammock, Gaiters, Headlamp, Balaclava, Flysheet dan lainnya.
* Pakaian
Pakain sendiri terbagi atas;
  • lapisan dasar ; misalnya terbuat dari bahan polar (thermal underwear) yang cukup tipis ( contoh; longjhon)
  • lapisan kedua ; terbuat dari bahan campuran atau gabungan nylon dan polyster.
  • lapisan ketiga ; merupakan jaket ringan tipis dan umumnya tanpa penutup kepala. Biasa disebut Fleece.
  • lapisan keempat ; terbuat dari shell garment. Bahan ini ada yang dapat menahan angin namun tembus air, ada yang tak tembus angin dan air, ada pula yang dapat menahan angin dan air, namun dapat mengeluarkan udara yang berada antara tubuh dan jaket atau biasa dibuat Waterfroop Breathable Garmen contoh bahan ini Gore-Tex.
Fleece Jacket, Gore-Tex Jacket
* Sepatu/shoes
Jenis sepatu berdasarkan medan tempuhnya dapat dibagi atas;

  • Light Hiker/Trail Boots. Mempunyai sol ringan, terbuat dari bahan kombinasi kulit dan sintetis, cocok untuk perjalanan yang ditempuh dalam waktu sehari (one day trips)
  • Off Trail Boots. umumnya terbuat dari kulit, mempunyai hak agak tinggi dan pelindung angkel kaki (angkle support)
  • Rough Trail. Sedikit lebih tinggi, umumnya untuk perjalanan jauh (long trips)
  • Double Boots. Adalah jenis sepatu yang digunakan untuk mendaki gunung-gunung es. Mempunyai lapisan dalam berbentuk hampir seperti sepatu, namun tanpa hak.
Trail Boots Off Trail Boot

Mountaineering Boot Double Boot
* Ransel/Pack
Merupakan peralatan yang sangat vital dalam berkegiatan di alam bebas terbuka. Sebaiknya pilihlah ransel yang dijamin kekuatannya, baik dari bahan ataupun jahitannya. Hal-hal yang diperhatikan utnuk menentukan baik tidaknya suatu ransel/keril antara lain;

  • Pas atau cocok dengan tubuh
  • Mempunyai desain sabuk pinggang yang baik
  • Bentuk lengkungan dapat disesuaikan (adjustable)
  • Frame yang ringan namun kuat
  • Kapasitasnya
  • Bahan yang ringan namun kuat
* Kantung Tidur/Sleeping Bag
Tak semuanya sleeping bag yang tebal dapat memberikan kehangatan, karena ini juga tergantung dari bahan yang dipakai untuk membuatnya dan bentuknya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih SB yang baik, antara lain;

  • Pas dengan tubuh
  • Ringan namun kuat
  • Mempunyai tutup kepala yang bisa disesuaikan
  • Mempunyai retsleting (zip) dua arah
  • Mempunyai isolasi pelapis dibelakang retsleting itu sendiri (drough tube) sehingga memungkinkan angin tak dapat masuk dari retsleting.
* Tenda/ Tent
Suatu tenda yang baik bukan berarti ia mahal. Walaupun tenda yang mahal cenderung merupakan baik, bukanlah jaminan. Ini tergantung bisa tidak kita menggunakannnya serta merawatnya. Tenda yang baik adalah;
  • Yang mudah didirikan
  • Lapisan luarnya (flyshhet/cover) tahan air
  • Bagian dalam tidak tahan air, namun mampu melepaskan udara (kondensasi) dari dalam tenda
  • Mempunyai ruangan yang cukup dan sebanding dengan rasio berat
  • Mempunyai lapisan jaring pada pintu dan jendela
  • Berandanya (vestibule) cukup luas
  • Ventilasinya cukup baik
  • Tak terlalu tinggi, hingga tahan terhadap hembusan angin
(buka artikel Basic Mountaineering tentang Tenda)

*Kompor Lapangan/Stove
Kompor buatan luar negeri bukan jaminan kompor yang baik. Namun bukannnya tak bisa dipakai kadang ada beberapa kompor luar yang bahan bakarnya tak dapat dijumpai disini. jenis-jenis kompor lapangan berdasarkan medannya yaitu;

High Altitude Mountaineering Stove
Adalah jenis kompor lapangan yang umunya digunakan pada medan es

  • Multy Fuel Stove. Tabung dengan kepala kompor terpisah, bahan bakar bensin putih, miyak tanah atau kerosin (MSR)
  • Dual Fuel Stove. Tabung menyatu dengan kepala kompor, berbahan bakar bensin atau bensin putih
multy fuel stove
Non High Altitude Stove
  • Kerosine Stove. Bentuknya seperti tabung lampu petromak, dengan kepala dan tabung menyatu, Bahan bakar minyak tanah
  • Butane Stove. Tabungnya ada yang bisa dilepas dan ada yang tidak. berbahan gas yang ada dalam tabung (Camping Gaz)
  • Espit Stove. Berbahan bakar parafin
  • Alcohol Stove. Berbahan bakar spirtus,alkohol atau bensin putih (Trangia)
  • White Gas Stove. Berbahan gas kaleng (Butan canister). Tabung dan burner (ruang bakar) terpisah
  • Light Weight Stove. Berbahan gas kaleng (Butan canister). Dimana tabung terhubung dengan burner melalui selang


trangia



PEMILIHAN LOGISTIK


Pemilhan logistik atau bahan makanan yang tepat juga merupakan sebuah tahapan yang penting dilakukan agar sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan dengan baik. Hal ini juga merupakan sebuah tahapan yang tak kalah pentingnya dalam manajemen perjalanan. Dalam memilih logistik hendaknya diperhatikan beberapa hal, antara lain;

  • Lamanya perjalanan
  • Masa kadaluarsa makanan
  • Jumlah anggota
  • Daerah yang di tuju
  • Keadaan masyarakat sekitar
  • Tipe pendakian
  • Berat
  • Selera